Minggu, 27 Maret 2016

Tren bunga deposito terus beranjak turun Sabtu, 26 Maret 2016 / 15:25 WIB

Jakarta. Bunga simpanan deposito semakin kuncup pasca Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menurunkan batas atas (capping) bunga deposito perbankan awal Maret ini. Penurunan setoran giro wajib minimum (GWM) primer juga berandil menurunkan bunga deposito.
Pada kuartal II nanti, tren bunga deposito akan semakin rendah. Nah, ini menggiring bank menggunting bunga kredit di semester II-2016.
Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Halim Alamsyah mengatakan, LPS memantau suku bunga pasar untuk deposito sudah turun 12 basis poin (bps) atau menjadi 6,82% pada pekan kedua dan ketiga Maret 2016, dari posisi 6,94% per minggu pertama Maret 2016. “Beberapa bank menurunkan bunga deposito 45 bps-75 bps,” kata Halim kepada KONTAN, Selasa (22/3).
Agar bunga semakin rendah, LPS akan menurunkan bunga penjaminan (LPS rate) pada bulan April atau Mei 2016 mendatang. Halim memprediksi, suku bunga deposito akan turun minimal 75 bps hingga akhir tahun 2016.
Direktur Keuangan Bank Negara Indonesia (BNI) Rico Rizal Budidarmo mengatakan, BNI telah memangkas bunga deposito pada awal Maret 2016. Bank ini menurunkan bunga deposito 150 bps untuk special rate, dan menurunkan bunga deposito sebesar 50 bps untuk counter rate.
"Jika bunga pasar turun maka bank-bank akan ikut untuk menurunkan kembali bunga deposito," ucap Rico.
Direktur Utama BNI Achmad Baiquni menambahkan, sampai akhir tahun bunga deposito pasar diperkirakan masih akan turun lagi sebesar 25 bps- 50 bps.
Senada, Direktur Keuangan Bank Rakyat Indonesia (BRI) Haru Koesmahargyo mengatakan, ada potensi penurunan bunga deposito kembali sekitar 25 bps-50 bps di akhir tahun 2016. BRI telah memangkas bunga deposito 25 bps untukspecial rate.
Presiden Direktur Bank Central Asia (BCA) Jahja Setiaatmadja bilang, BCA sudah menurunkan bunga deposito sebelum ada kebijakan baru capping bunga. "Tingkat suku bunga deposito BCA antara 5%-5,5%," kata Jahja.
Sementara Pahala Mansury, Direktur Bank Mandiri mengatakan, peluang bagi bank menurunkan bunga deposito memang masih terbuka, namun tidak terlalu signifikan, sekitar 25 bps-50 bps.
Adapun faktor pendorong penurunan bunga deposito antara lain tingkat inflasi, suku bunga acuan Bank Indonesia (BI rate), hingga kecukupan likuiditas di pasar.
sumber:kontan.co.id
Reporter Arsy Ani Sucianingsih, Galvan Yudistira, Nina Dwiantika
Editor Adi Wikanto

Februari, DPLK Mualamat kantongi dana Rp 897 M Minggu, 27 Maret 2016 / 20:08 WIB

JAKARTA. Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) Muamalat mencatatkan laju pertumbuhan dana kelolaan sebesar 3,4% secara year to date di awal 2016 ini.
Pelaksana Tugas Pengurus DPLK Muamalat SS Setiawan menyebut, hingga akhir Februari kemarin, dana kelolaan yang berhasil dikumpulan adalah sebesar Rp 897 miliar. Sedangkan di akhir 2015, dana kelolaan yang diperoleh mencapai Rp 867 miliar.
Biasanya, tren pertumbuhan dana kelolaan memang belum terlalu ramai di awal tahun. "Mulai memasuki kuartal kedua dan seterunya biasanya akan lebih cepat," kata dia.
Sepanjang 2016 sendiri DPLK Muamalat mengejar kenaikan dana kelolaan sebanyak Rp 133 miliar. Dengan begitu, dana kelolaan mereka di penghujung Desember nanti bisa menembus Rp 1 triliun.
Nah dengan capaian dalam dua bulan pertama ini, dana kelolaan yang dikantongi naik Rp 30 miliar. Artinya, tambahan dana kelolaan sudah mencapai 22,5% dari target tahunan.
Untuk bisa memenuhi target tahun ini, DPLK Muamalat akan melanjutkan strategi untuk menggarap sejumlah pasar baru yang belum tergarap. Termasuk juga dari segmen ritel. "Kondisi pasar modal tahun ini juga diharapkan bisa mendukung," ungkapnya.
sumber:kontan.co.id
Reporter Tendi Mahadi
Editor Barratut Taqiyyah

Kerugian BNBR mencapai Rp 1,7 triliun Minggu, 27 Maret 2016 / 21:59 WIB

JAKARTA. Kinerja induk grup Bakrie meradang. PT Bakrie and Brothers Tbk (BNBR) hanya mampu mencetak pendapatan sebesar Rp 4,6 triliun sepanjang tahun 2015 lalu. Angka itu turun hingga 26,9% dari tahun 2014 yang sebesar Rp 6,3 triliun.
Perseroan mencetak rugi selisih kurs hingga Rp 722,17 miliar, membengkak dari kerugian sebelumnya yang sebesar Rp 162,7 miliar. Belum lagi, ada penyisihan penurunan nilai investasi sebesar Rp 968,09 miliar yang makin memangkasbottom line perseroan.
Penurunan nilai ini dilakukan atas investasi BNBR di Skytrend Investment Holdings Ltd karena pelemahan harga komoditas dalam dua tahun terakhir.
Tingginya beban membuat BNBR merugi hingga Rp 1,74 triliun. Tahun 2014 lalu, BNBR masih bisa mencetak untung tipis sebesar Rp 155,1 miliar.
Perseroan memiliki pinjaman jangka panjang yang jatuh tempo dalam waktu setahun sebesar Rp 2,8 triliun. Liabilitas BNBR masih belum menyusut, yakni tercatat sebesar Rp 13,12 triliun.
Perseroan juga masih harus menghadapi ekuitas negatif atau defisiensi modal yang mencapai Rp 2,9 triliun. Jumlah itu membengkak dari defisiensi modal tahun 2014 yang sebesar Rp 2,1 triliun.
 sumber:kontan.co.id


Reporter Narita Indrastiti
Editor Barratut Taqiyyah