Rabu, 08 Juni 2016

Catat daftar merek yang ikut pameran GIIAS 2016

 Kamis, 09 Juni 2016 / 08:03 WIB
JAKARTA. Pameran Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) akan diselenggarakan 11-21 Agustus 2016 mendatang. Event ini bakal diikuti oleh 32 merek kendaraan, komposisinya 26 dari kendaraan penumpang dan enam komersial.
Kendaraan penumpang terdiri dari Audi, BMW, Chevrolet, Datsun, Daihatsu, Dodge, Fiat, Honda, Hyundai, Isuzu, Jaguar, Jeep, Kia, Land Rover, Lexus, Mazda, Mercedes-Benz, Mini, Mitsubishi, Nissan, Renault, Suzuki, Tata Motors, Toyota, VW, Wuling dan enam merek kendaraan komersial yang terdiri dari FAW, Hino, Isuzu, Mitsubishi, Fuso, Tata Motors, dan UD Truck.
"Dengan dukungan OICA, kami fokus dalam menjadikan GIIAS ini sebagai salah satu pameran otomotif berskala internasional yang dapat mendorong industri otomotif Indonesia ke tingkat yang lebih baik," ujar Yohannes Nangoi, Ketua Umum Gaikindo, Rabu (8/6).
Nangoi melanjutkan, 32 merek kendaraan telah berkomitmen mendukung pameran GIIAS. "Kami berharap dapat menambah bobot GIIAS sebagai paneran otomotif yang dapat mengukuhkan nama Indonesia di panggung otomotif dunia," ucap Nangoi.
Rizwan Alamsjah, Ketua Penyelenggara GIIAS 2016 menambahkan, Gaikindo terus berupaya menghadirkan seniah pameran dengan rangkaian acara menarik dan fasilitas nyaman bagi pengunjung dan peserta. Melalui ajang ini, Gaikindo mengajak para peserta untuk memamerkan teknologi serta produk unggulannya.
"Kami berjanji akan menyuguhkan pameran ini berbeda dengan pameran otomotif lain," kata Rizwan di tempat sama.
Mengenai lokasi, tetap sama seperti tahun lalu, yakni di Indonesia Convention and Exhibition (ICE), di kawasan BSD City, Tangerang. Area pameran bertambah luas di area outdoor berikut perluasan booth BWM dan MINI. Seluruh penambahan mencapai 5.000 m², jadi GIIAS 2016 akan memanfaatkan total lahan seluas 96.577 m². (Aditya M   
SUMBER : Kompas.com dan kontan.co.id

Minggu, 27 Maret 2016

Tren bunga deposito terus beranjak turun Sabtu, 26 Maret 2016 / 15:25 WIB

Jakarta. Bunga simpanan deposito semakin kuncup pasca Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menurunkan batas atas (capping) bunga deposito perbankan awal Maret ini. Penurunan setoran giro wajib minimum (GWM) primer juga berandil menurunkan bunga deposito.
Pada kuartal II nanti, tren bunga deposito akan semakin rendah. Nah, ini menggiring bank menggunting bunga kredit di semester II-2016.
Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Halim Alamsyah mengatakan, LPS memantau suku bunga pasar untuk deposito sudah turun 12 basis poin (bps) atau menjadi 6,82% pada pekan kedua dan ketiga Maret 2016, dari posisi 6,94% per minggu pertama Maret 2016. “Beberapa bank menurunkan bunga deposito 45 bps-75 bps,” kata Halim kepada KONTAN, Selasa (22/3).
Agar bunga semakin rendah, LPS akan menurunkan bunga penjaminan (LPS rate) pada bulan April atau Mei 2016 mendatang. Halim memprediksi, suku bunga deposito akan turun minimal 75 bps hingga akhir tahun 2016.
Direktur Keuangan Bank Negara Indonesia (BNI) Rico Rizal Budidarmo mengatakan, BNI telah memangkas bunga deposito pada awal Maret 2016. Bank ini menurunkan bunga deposito 150 bps untuk special rate, dan menurunkan bunga deposito sebesar 50 bps untuk counter rate.
"Jika bunga pasar turun maka bank-bank akan ikut untuk menurunkan kembali bunga deposito," ucap Rico.
Direktur Utama BNI Achmad Baiquni menambahkan, sampai akhir tahun bunga deposito pasar diperkirakan masih akan turun lagi sebesar 25 bps- 50 bps.
Senada, Direktur Keuangan Bank Rakyat Indonesia (BRI) Haru Koesmahargyo mengatakan, ada potensi penurunan bunga deposito kembali sekitar 25 bps-50 bps di akhir tahun 2016. BRI telah memangkas bunga deposito 25 bps untukspecial rate.
Presiden Direktur Bank Central Asia (BCA) Jahja Setiaatmadja bilang, BCA sudah menurunkan bunga deposito sebelum ada kebijakan baru capping bunga. "Tingkat suku bunga deposito BCA antara 5%-5,5%," kata Jahja.
Sementara Pahala Mansury, Direktur Bank Mandiri mengatakan, peluang bagi bank menurunkan bunga deposito memang masih terbuka, namun tidak terlalu signifikan, sekitar 25 bps-50 bps.
Adapun faktor pendorong penurunan bunga deposito antara lain tingkat inflasi, suku bunga acuan Bank Indonesia (BI rate), hingga kecukupan likuiditas di pasar.
sumber:kontan.co.id
Reporter Arsy Ani Sucianingsih, Galvan Yudistira, Nina Dwiantika
Editor Adi Wikanto

Februari, DPLK Mualamat kantongi dana Rp 897 M Minggu, 27 Maret 2016 / 20:08 WIB

JAKARTA. Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) Muamalat mencatatkan laju pertumbuhan dana kelolaan sebesar 3,4% secara year to date di awal 2016 ini.
Pelaksana Tugas Pengurus DPLK Muamalat SS Setiawan menyebut, hingga akhir Februari kemarin, dana kelolaan yang berhasil dikumpulan adalah sebesar Rp 897 miliar. Sedangkan di akhir 2015, dana kelolaan yang diperoleh mencapai Rp 867 miliar.
Biasanya, tren pertumbuhan dana kelolaan memang belum terlalu ramai di awal tahun. "Mulai memasuki kuartal kedua dan seterunya biasanya akan lebih cepat," kata dia.
Sepanjang 2016 sendiri DPLK Muamalat mengejar kenaikan dana kelolaan sebanyak Rp 133 miliar. Dengan begitu, dana kelolaan mereka di penghujung Desember nanti bisa menembus Rp 1 triliun.
Nah dengan capaian dalam dua bulan pertama ini, dana kelolaan yang dikantongi naik Rp 30 miliar. Artinya, tambahan dana kelolaan sudah mencapai 22,5% dari target tahunan.
Untuk bisa memenuhi target tahun ini, DPLK Muamalat akan melanjutkan strategi untuk menggarap sejumlah pasar baru yang belum tergarap. Termasuk juga dari segmen ritel. "Kondisi pasar modal tahun ini juga diharapkan bisa mendukung," ungkapnya.
sumber:kontan.co.id
Reporter Tendi Mahadi
Editor Barratut Taqiyyah

Kerugian BNBR mencapai Rp 1,7 triliun Minggu, 27 Maret 2016 / 21:59 WIB

JAKARTA. Kinerja induk grup Bakrie meradang. PT Bakrie and Brothers Tbk (BNBR) hanya mampu mencetak pendapatan sebesar Rp 4,6 triliun sepanjang tahun 2015 lalu. Angka itu turun hingga 26,9% dari tahun 2014 yang sebesar Rp 6,3 triliun.
Perseroan mencetak rugi selisih kurs hingga Rp 722,17 miliar, membengkak dari kerugian sebelumnya yang sebesar Rp 162,7 miliar. Belum lagi, ada penyisihan penurunan nilai investasi sebesar Rp 968,09 miliar yang makin memangkasbottom line perseroan.
Penurunan nilai ini dilakukan atas investasi BNBR di Skytrend Investment Holdings Ltd karena pelemahan harga komoditas dalam dua tahun terakhir.
Tingginya beban membuat BNBR merugi hingga Rp 1,74 triliun. Tahun 2014 lalu, BNBR masih bisa mencetak untung tipis sebesar Rp 155,1 miliar.
Perseroan memiliki pinjaman jangka panjang yang jatuh tempo dalam waktu setahun sebesar Rp 2,8 triliun. Liabilitas BNBR masih belum menyusut, yakni tercatat sebesar Rp 13,12 triliun.
Perseroan juga masih harus menghadapi ekuitas negatif atau defisiensi modal yang mencapai Rp 2,9 triliun. Jumlah itu membengkak dari defisiensi modal tahun 2014 yang sebesar Rp 2,1 triliun.
 sumber:kontan.co.id


Reporter Narita Indrastiti
Editor Barratut Taqiyyah

Sabtu, 14 Maret 2015

HARGA EMAS : Berpotensi Lanjutkan Pelemahan Tahunan

Bisnis.com,JAKARTA – Harga emas masih berpotensi melemah pada tahun ini. Penguatan indeks dolar AS membuat permintaan komoditas dari luar Amerika Serikat (AS) akan turun. Fauzi Ichsan, Pengamat Ekonomi yang juga Anggota Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), mengatakan pada tahun ini harga emas berpotensi jatuh di level lebih rendah dibandingkan dengan tahun lalu. “Prediksi itu saya kutip dari analis Brasil yang cukup akurat dalam memperkirakan pergerakan harga. Saya pun setuju bila melihat fundamental dolar AS dan emas pada tahun ini,” ujarnya dalam acara Market Outlook 2015 : J Club PT Monex Investindo Futures pada Sabtu (14/3/2015). Pada tahun lalu, harga emas di tutup pada level US$1.184 per troy ounce, sedangkan sepanjang tahun ini harga emas telah turun 1,97% dari level US$1.181 per troy ounce menjadi US$1.158 per troy ounce. Meskipun begitu, pada tahun ini harga emas diprediksi berada di level US$1.235. Sementara itu, untuk 2016 akan berada di level US$1.250 per troy ounce dan 2017 akan di posisi US$1.275.

Jumat, 13 Maret 2015

Rupiah Melemah, Ada Industri yang Justru Untung, Apa Saja? Rupiah Melemah, Ada Industri yang Justru Untung, Apa Saja?

Sabtu, 14 Maret 2015 TEMPO.CO, Yogyakarta - Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar menguntungkan eksportir dan agen wisata di Yogyakarta. Mereka kebanjiran pesanan. Perusahaan furnitur bernama XO Furniture milik Rian Hermawan mendapat banyak pesanan mebel dari pembeli asal Denmark, Jerman, dan Spanyol. Omzet penjualan furnitur di gudang mebel yang berdiri di Mancasan, Pendowoharjo, Sleman, itu naik hingga 10 persen ketimbang kondisi normal.
"Harga dolar yang tinggi jelas menguntungkan eksportir," kata Rian, Kamis, 12 Maret 2015. Menurut dia, pembeli telah memesan barang yang akan dikirim April dan Mei 2015. Denmark dan Jerman masing-masing memesan satu kontainer barang. Sedangkan Spanyol memesan dua kontainer. Satu kontainer mebel berbahan kayu mindi atau kayu lokal Jawa itu dibanderol US$ 20 ribu atau setara Rp 263,8 juta. Furnitur yang dikirim di antaranya lemari dan bufet. Menurut Rian, nilai dolar yang menguat membuat pembeli, yang menjadi langganannya, semakin berminat menambah pesanan barang. Rian hingga kini belum menaikkan harga mebel dengan pertimbangan nilai tukar rupiah yang naik-turun. Menguatnya harga dolar juga menguntungkan agen perjalanan wisata Yogyakarta. Ketua Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies Yogyakarta atau Asita, Edwin Ismedi, menyatakan harga dolar yang tinggi berdampak positif bagi agen wisata. Namun keuntungannya belum terlihat signifikan. "Melemahnya nilai tukar rupiah itu fluktuatif. Keuntungan hanya bersifat sementara," kata Edwin. Dia mengatakan menguatnya harga dolar belum berdampak pada peningkatan jumlah wisatawan. Sebab, wisatawan mancanegara biasanya melakukan reservasi setahun sebelum kunjungan ke Yogyakarta. Wisatawan mancanegara yang reservasi itu kebanyakan dari Eropa. Harga dolar yang tinggi tak hanya berdampak positif bagi usaha pariwisata di Yogyakarta. Dampak negatifnya, kata Edwin, bagi wisatawan asal Indonesia yang berkunjung ke luar negeri. Wisatawan asal Yogyakarta kebanyakan berkunjung ke kawasaan Asia, seperti Jepang dan Korea Selatan. "Bagi mereka yang tak punya dolar dalam jumlah banyak, berat," kata Edwin. Penguatan dolar secara tajam terhadap semua mata uang dunia membuat nilai tukar rupiah kembali jatuh ke titik terendah selama 17 tahun terakhir. Dalam perdagangan Rabu, 11 Maret 2015, rupiah yang sempat menyentuh level 13.245 akhirnya melemah 98 poin (0,75 persen) pada level 13.192 per dolar AS. SHINTA MAHARANI

Mendag Akan Genjot Ekspor Otomotif dan Elektronik

Sabtu, 14 Maret 2015 | 05:23 WIB
TEMPO.CO , Jakarta:Menteri Perdagangan Rahmat Gobel menargetkan untuk menggenjot kinerja ekspor. Dua sektor utama yang akan digenjot adalah otomotif dan elektronik. Hal itu sesuai dengan yang dimintakan Presiden Joko Widodo. Rahmat mengklaim, beberapa perusahaan di kedua sektor tersebut sudah berkomitmen untuk melanjutkan investasinya. "Toyota misalnya, sekurang-kurangnya US$ 1 miliar," kata Rahmat, saat melakukan kunjungan ke kantor Tempo, di Kebayoran Lama Jakarta, Jumat 13 Maret 2015. Dengan dana itu, Toyota berencana akan memperkuat struktur industri mereka di Indonesia. Tak hanya Toyota, pabrikan otomotif lain, Suzuki, juga diminta untuk menaikkan kinerja ekspor mereka di Indonesia. Tak tanggung-tanggung, dia mematok kenaikan target ekspor Suzuki 300 persen. Dengan menggenjot ekspor, Rahmat menyatakan bahwa Indonesia memiliki kesempatan untuk menjadi basis produksi. Secara umum, untuk menggenjot ekspor, strategi yang akan dilakukan antara lain adalah dengan memfokuskan pasar Asean terlebih dahulu. Kedua, proses pengadaan bahan baku, termasuk jika harus impor akan dipercepat Dalam jangka panjang, dia berencana menjadikan Sarinah dan Pusat Perdagangan (PPI) menjadi salah satu trading house tingkat internasional. Selain itu, salah satu lembaga di bawah kementerian yaitu, Pendidikan dan Pelatihan Ekspor Indonesia (PPEI), juga akan dijadikan sebagai internasional desain center. "Pusat semua desain produk. Kami juga akan mendatangkan ‎desainer Indonesia di luar negeri untuk menularkan ilmunya." Rahmat mengatakan, hingga tahun 2019, kementeriannya ditargetkan mampu mencapai nilai ekpsor US$ 458,8 miliar. Adapun pada tahun 2014, jumlah nilai ekspor Indonesia tercatat US$ 176,3 miliar. Walaupun begitu, menurut dia, upaya untuk mendorong ekspor bukan hanya tugas Kementerian Perdagangan saja melainkan kementerian lain. "Kami ini hanya pedagang, barangnya ada di kementerian terkait." FAIZ NASHRILLAH