Jumat, 13 Maret 2015

Rupiah Melemah, Ada Industri yang Justru Untung, Apa Saja? Rupiah Melemah, Ada Industri yang Justru Untung, Apa Saja?

Sabtu, 14 Maret 2015 TEMPO.CO, Yogyakarta - Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar menguntungkan eksportir dan agen wisata di Yogyakarta. Mereka kebanjiran pesanan. Perusahaan furnitur bernama XO Furniture milik Rian Hermawan mendapat banyak pesanan mebel dari pembeli asal Denmark, Jerman, dan Spanyol. Omzet penjualan furnitur di gudang mebel yang berdiri di Mancasan, Pendowoharjo, Sleman, itu naik hingga 10 persen ketimbang kondisi normal.
"Harga dolar yang tinggi jelas menguntungkan eksportir," kata Rian, Kamis, 12 Maret 2015. Menurut dia, pembeli telah memesan barang yang akan dikirim April dan Mei 2015. Denmark dan Jerman masing-masing memesan satu kontainer barang. Sedangkan Spanyol memesan dua kontainer. Satu kontainer mebel berbahan kayu mindi atau kayu lokal Jawa itu dibanderol US$ 20 ribu atau setara Rp 263,8 juta. Furnitur yang dikirim di antaranya lemari dan bufet. Menurut Rian, nilai dolar yang menguat membuat pembeli, yang menjadi langganannya, semakin berminat menambah pesanan barang. Rian hingga kini belum menaikkan harga mebel dengan pertimbangan nilai tukar rupiah yang naik-turun. Menguatnya harga dolar juga menguntungkan agen perjalanan wisata Yogyakarta. Ketua Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies Yogyakarta atau Asita, Edwin Ismedi, menyatakan harga dolar yang tinggi berdampak positif bagi agen wisata. Namun keuntungannya belum terlihat signifikan. "Melemahnya nilai tukar rupiah itu fluktuatif. Keuntungan hanya bersifat sementara," kata Edwin. Dia mengatakan menguatnya harga dolar belum berdampak pada peningkatan jumlah wisatawan. Sebab, wisatawan mancanegara biasanya melakukan reservasi setahun sebelum kunjungan ke Yogyakarta. Wisatawan mancanegara yang reservasi itu kebanyakan dari Eropa. Harga dolar yang tinggi tak hanya berdampak positif bagi usaha pariwisata di Yogyakarta. Dampak negatifnya, kata Edwin, bagi wisatawan asal Indonesia yang berkunjung ke luar negeri. Wisatawan asal Yogyakarta kebanyakan berkunjung ke kawasaan Asia, seperti Jepang dan Korea Selatan. "Bagi mereka yang tak punya dolar dalam jumlah banyak, berat," kata Edwin. Penguatan dolar secara tajam terhadap semua mata uang dunia membuat nilai tukar rupiah kembali jatuh ke titik terendah selama 17 tahun terakhir. Dalam perdagangan Rabu, 11 Maret 2015, rupiah yang sempat menyentuh level 13.245 akhirnya melemah 98 poin (0,75 persen) pada level 13.192 per dolar AS. SHINTA MAHARANI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar