Jumat, 27 Februari 2015

PT RAI Incar Kertajati untuk Pabrikasi Pesawat R80

Rabu, 14 Januari 2015 | 21:51 WIB TEMPO.CO, Bandung - PT Regio Aviasi Industri (RAI) mengincar Bandara Internasional Jawa Barat di Kertajati, Majalengka, untuk lokasi pabrikasi pesawat R80. ''PT RAI sedang merancang bangun pesawat terbang R80, mau dibuat di Kertajati, (tempat) assembly (perakitannya)," kata Komisaris PT RAI, Ilham Akbar Habibie, usai rapat dengan erwakilan pemerintah Jawa Barat di Gedung Sate, Bandung, Rabu, 14 Januari 2015. Menurut Ilham, PT RAI enyiapkan dua opsi lokasi perakitan akhir pesawat R80 sebelum terbang perdana pada 2018. Opsi pertama di Bandara Kertajati, kedua di Bandara Husein Sastranegara. Dia berharap penerbangan perdana bisa dilakukan di Kertajati, sekaligus sebagai tempat pabrikasi serial pesawat R80 lainnya. "Di Kertajati ada banyak sekali keuntungan kalau mau tumbuh," kata dia. Ilham mengtakan, di Husein Sastranegara, Bandung, kawasannya sudah padat sekali, kalau di Kertajati masih lapangan terbuka. Tahun ini tahapan pembuatan pesawat R80 akan memulai pembuatan prototipe. Ada empat pesawat prototipe R80 yang dipersiapkan dalam tiga tahun, hingga terbang perdana pada 2018 nanti. Lokasi pembuatan bagian-bagian pesawat itu digarap di pabrik pesawat PT Dirgantara Indonesia di Bandung. Bagian prototipe pesawat itu rencananya akan digabungkan di hanggar yang disiapkan Bandara Kertajati sebelum terbang perdana. Direktur Utama PT RAI Agung Nugroho mengatakan, pertimbangan lain memilih Bandara Kertajati adalah alasan keamanan. "Buat kita first-flight itu safety first. Kita mau pindah ke Kertajati karena informasi sekarang ini Bandara Husein sudah sangat padat, resiko safety lebih besar," kata dia di Bandung. Menurut dia, sudah disepakati untuk menyusun naskah kesepahaman atau MoU dengan pemerintah Jawa Barat soal itu. "Kita ingin mensinergikan antara apa yang akan kita lakukan pada pesawat R80 dengan rencanabesar Jawa Barat," kata dia. Asisten Perekonomian Pemerintah Provinsi Jawa Barat Yerry Yanuar mengatakan, pembicaraan dengan PT RAI merupakan tindak lanjut pembicaraan antara mantan presiden Baharudin Jusuf Habibie, pendiri PT RAI, dengan Gubernur Ahmad Heryawan pada September 2014 lalu. "Sebulan ini akan dirumuskan apa saja yang menjadi substansi MoU, soal setuju atau tidaknya itu kita tawarkan pada gubernur," kata dia. Menurut Yerry, rumusan naskah kesepahaman itu diantaranya soal perencanaan tata ruang Bandara Kertajati agar lokasi assembly PT RAI nanti bisa mengakses langsung landasan untuk kepentingan uji-coba pesawat R80. Pemerintah Jawa Barat menargetkan Bandara Kertajati bisa beroperasi pada 2017 nanti. Tahun ini pemerintah berkonsentrasi pada pendirian Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) yang akan mengelola kawasan bandara tersebut. AHMAD FIKRI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar